Skip ke Konten

Belajar Tentang Framing melalui Kasus Rafflesia hasseltii

2 Februari 2026 oleh
ManaFaktanya

Masyarakat Indonesia ramai mengkritik sebuah unggahan di platform X yang membahas penemuan Rafflesia hasseltii, karena narasi tersebut dinilai tidak menonjolkan peran peneliti asal Indonesia. Unggahan itu lebih menekankan afiliasi institusi asing, khususnya Universitas Oxford, sehingga membentuk kesan seolah-olah penemuan dan otoritas ilmiah sepenuhnya berasal dari luar negeri. Dalam konteks media sosial yang dikonsumsi publik luas, cara penyajian informasi seperti ini sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi awal masyarakat.

Di sisi lain, publik juga menyadari bahwa dalam publikasi ilmiah resmi, nama dan kontribusi peneliti Indonesia sebenarnya tercantum secara jelas dan sesuai dengan standar akademik. Namun persoalan muncul ketika hasil riset tersebut disampaikan ke ruang publik melalui media populer. Dalam komunikasi publiknya, Oxford dinilai tidak menempatkan peneliti Indonesia secara setara, padahal pencarian Rafflesia hasseltii melibatkan kerja lapangan dan penelitian jangka panjang selama sekitar 10 tahun di Indonesia. Ketimpangan ini dianggap tidak adil karena media memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dibanding jurnal ilmiah.

Secara teori, framing bekerja dengan memilih bagian tertentu dari sebuah realitas untuk ditonjolkan, sementara bagian lain dipinggirkan atau dihilangkan. Melalui pilihan kata, aktor, dan simbol, framing dapat membentuk makna dominan yang diterima publik. Dalam kasus ini, penonjolan institusi global memperkuat kesan bahwa legitimasi ilmu pengetahuan datang dari luar, sementara kontribusi lokal menjadi kurang terlihat meski substansinya penting.

Lebih jauh, framing media bahkan mampu mengubah persepsi publik dari “tidak ada masalah” menjadi “ada masalah”, atau sebaliknya. Sesuatu yang awalnya netral bisa dipahami sebagai ketimpangan, hanya karena cara cerita itu disampaikan. Karena itu, publik perlu lebih kritis dalam membaca narasi media, sementara lembaga riset dan media juga dituntut lebih adil dalam komunikasi sains, agar kolaborasi ilmiah benar-benar dipahami sebagai kerja bersama, bukan dominasi satu pihak.