Beredar sebuah postingan video di media sosial yang menyebutkan bahwa seorang reporter CNN bernama Irene Wardhanie dipecat setelah menyiarkan banjir di wilayah Sumatera sambil menangis. Dalam unggahan tersebut juga disertakan foto yang menampilkan sosok perempuan mengenakan baju tahanan dan diborgol oleh polisi, yang diklaim sebagai reporter CNN tersebut. Konten ini kemudian menyebar luas dan memicu berbagai spekulasi di kalangan warganet.
Untuk memastikan kebenaran klaim tersebut, dilakukan penelusuran dengan kata kunci “Reporter CNN Irene Wardhanie dipecat dan ditangkap” melalui mesin pencarian Google. Hasil penelusuran tidak menemukan satu pun sumber kredibel maupun pernyataan resmi dari CNN atau kepolisian yang membenarkan informasi tersebut. Tidak ada laporan media tepercaya yang menyebutkan bahwa Irene Wardhanie dipecat atau ditangkap setelah melakukan peliputan banjir.
Fakta yang sebenarnya, Irene Wardhanie memang merupakan reporter yang meliput banjir di wilayah Sumatera dan sempat menjadi sorotan publik karena terlihat menangis saat menyampaikan laporan. Video siaran tersebut kemudian diturunkan atau ditakedown oleh pihak CNN. Namun, hal ini tidak berkaitan dengan pemecatan maupun proses hukum sebagaimana diklaim dalam video yang beredar di media sosial.
Lebih lanjut, Irene Wardhanie telah memberikan klarifikasi secara langsung melalui akun media sosial TikTok pribadinya. Dalam klarifikasi tersebut, Irene menegaskan bahwa informasi mengenai dirinya dipecat oleh CNN dan ditangkap oleh kepolisian adalah tidak benar atau hoaks. Ia memastikan bahwa foto dan narasi yang beredar merupakan informasi menyesatkan yang tidak sesuai dengan fakta.
Dengan demikian, klaim yang menyebut reporter CNN Irene Wardhanie dipecat dan ditangkap usai meliput banjir di Sumatera dapat dipastikan sebagai hoaks. Masyarakat diimbau untuk lebih kritis terhadap konten yang beredar di media sosial, terutama yang menggunakan visual provokatif tanpa sumber jelas, serta selalu memverifikasi informasi melalui pernyataan resmi dan media kredibel sebelum mempercayai atau menyebarkannya kembali.